Syarat Terbang Masih Terlalu Berat, Bandara Kehilangan Puluhan Ribu Penumpang Selama PPKM

Artikel Hukum

MASIH BERAT: Suasana Bandara Internasional Syamsudin Noor, kemarin. Selama PPKM bandara ini kehilangan puluhan ribu penumpang. Mereka berharap syarat terbang bisa lebih ringan, agar penumpang kembali tumbuh. | FOTO: SUTRISNO/RADAR BANJARMASIN

BANJARBARU – Penyesuaian biaya tes polymerase chain reaction (PCR) menjadi Rp525 ribu sebagai syarat terbang, memang membuat pergerakan penumpang di Bandara Internasional Syamsudin Noor meningkat. Namun, jumlah penumpang masih kalah jauh dibandingkan tahun lalu.

Stakeholder Relation Bandara Internasional Syamsudin Noor, Ahmad Zulfian Noor mengatakan, jika dibandingkan antara Agustus 2021 dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya jumlah penumpang mengalami penurunan hingga 56.9 persen.

“Pada Agustus tahun ini total penumpang yang dilayani 37.224, sementara tahun sebelumnya mencapai 86.433 penumpang,” katanya.

Dia mengungkapkan, jumlah penumpang bandara turun signifikan lantaran syarat terbang yang sangat ketat selama PPKM. “Sampai sekarang syarat terbang masih ketat. Penumpang harus sudah divaksin dan membawa hasil negatif tes PCR,” ungkapnya.

Zulfian berharap, PPKM level 4 bisa segera berakhir. Sehingga penumpang di Bandara Syamsudin Noor bisa kembali tumbuh. “Kalau syarat terbang lebih ringan, mungkin penumpang bisa meningkat hingga 100 persen,” bebernya.

Dalam beberapa pekan terakhir kata dia jumlah penumpang hanya mengalami sedikit kenaikan, lantaran adanya penyesuaian tarif PCR.

Zulfian merincikan, berdasarkan catatan mereka, tujuh hari setelah ada penyesuaian tarif tes PCR (20/8) lalu, jumlah penumpang berangkat yang mereka layani hanya naik 24 persen. Sedangkan kedatangan meningkat 31 persen.

“Sebelum ada penyesuaian biaya PCR, rata-rata sehari ada 610 penumpang yang berangkat. Kemudian tujuh hari setelah penyesuaian tarif, rata-rata 761 penumpang setiap harinya,” katanya.

Sedangkan untuk penumpang yang tiba di bandara, dia mengungkapkan, pada periode 7 hari sebelum penyesuaian tarif rata-rata 774 orang per hari. “Setelah penyesuaian tarif, selama 7 hari (hingga 26 Agustus 2021) tercatat, rata-rata setiap hari ada 980 penumpang yang datang,” ungkapnya.

Sementara itu, GM Garuda Indonesia Banjarmasin, Endy Latief menuturkan, meski tarif PCR sudah lebih murah namun jumlah penumpang mereka masih turun-naik. “Sebelumnya sempat meningkat 20 persen. Tapi hari ini (kemarin) sedang rendah,” tuturnya.

Menurutnya, jumlah penumpang masih belum bisa tumbuh dikarenakan syarat terbang yang masih terlalu ketat. “Sekarang penumpang masih wajib PCR dan punya kartu vaksin. Nanti kalau syaratnya cukup dengan Antigen saja, mungkin peningkatannya akan lebih terlihat,” ujarnya.

Garuda Indonesia sendiri selama PPKM cuma melayani penerbangan tujuan Jakarta 1 kali sehari, serta Samarinda seminggu sekali. “Tujuan Surabaya dan Yogyakarta demand-nya turun, jadi sementara hanya dilayani oleh Citilink sebagai anak usaha Garuda Group,” kata Endy.

Secara terpisah, Area Manager Lion Air Banjarmasin, Agung Purnama berharap, syarat terbang bisa kembali diringankan. Yakni, hanya mewajibkan penumpang membawa hasil tes antigen.

“Syarat penerbangan belum berubah, masih sama harus dengan PCR dan vaksin, jadi kami berharap jikapun PPKM diperpanjang, syarat terbang bisa kembali ke antigen,” harapnya.

Penumpang Lion Air sendiri kata dia, saat ini hanya meningkat sekitar 31 persen. Itu setelah adanya penyesuaian tarif PCR. Namun, peningkatan ini masih jauh dibandingkan tahun lalu. (ris/ran/ema)

https://kalsel.prokal.co/read/news/43500-syarat-terbang-masih-terlalu-berat-bandara-kehilangan-puluhan-ribu-penumpang-selama-ppkm.html

 

Tags :

Artikel Hukum

Share :